Penanganan HIV/AIDS Dilakukan Terpusat
Tanggal: Friday, 26 February 2010
Topik: HIV/AIDS
Radar Sulteng, 18 Februari 2010
MENINGKATNYA trend kasus penderita HIV AIDS di Sulteng dan bahkan ada satu keluarga di Kabupaten Banggai dinyatakan positif mengidap penyakit mematikan itu, menurut Dinas Kesehatan Sulteng penanganannya sudah dilakukan secara terpusat. Dari 10 kabupaten dan satu kota, hanya satu rumah sakit saja yang ditetapkan sebagai pusat rujukan penderita HIV AIDS yakni RSUD Undata Palu.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Sulteng, dr Anshayari Arsyad MKes, dinasnya tidak terlibat langsung dalam penanganan penderita HIV AIDS. Fungsi mereka sebatas koordinasi saja dengan RSUD Undata sehubungan dengan penanganan penderita. Karena itulah tidak ada pos anggaran khusus dari APBD yang disediakan dinas untuk penanganan penyakit satu ini.
RSUD Undata kata dia, menerima stok obat dan keperluan lainnya yang disediakan dari Departemen Kesehatan RI. Bila ada kekurangan obat atau kendala lainnya, rumah sakit berkoordinasi lagi dengan dinas untuk jalan keluarnya. Tetapi yang jelas kata Anshayari, keterlibatan dinas tidak secara langsung untuk masalah ini.
“Depkes langsung yang bertanggungjawab. Dinas sebatas membantu memfasilitasi saja. Di RSUD Undata juga sudah dilatih tenaga khusus untuk penanganan pasien HIV/AIDS,’’ jelas Anshayari dihubungi via ponselnya tadi malam.
Dipusatkannya rujukan pasien ke Undata sudah cukup baik sistemnya. Bila pun di rumah sakit di daerah-daerah menangani pasien, sebatas penanganan yang sifatnya dini. Tapi untuk kelanjutan pengobatan lebih intensif tetap dirujuk ke RSUD Undata Palu. Dengan sistem seperti ini, Dinkes berharap penanganan pasien HIV/AIDS lebih terpola.
Untuk koordinasi dengan RSUD Undata, menurutnya sudah berjalan seperti yang diharapkan. Bila ada kekurangan stok obat, pihak rumah sakit melaporkannya ke dinas. “Akses informasi dan pemberitahuan antara kami dengan Undata lancar dan cukup baik,’’ katanya.
Selain penanganan yang terpusat, identifikasi penderita HIV selama ini juga digalakkan melalui kerjasama dengan LSM yang bergerak di bidang reproduksi dan HIV. Lewat kerjasama yang terbangun baik, maka sosialisasi dan pencegahan terhadap penyakit mematikan itu lebih meluas. Karena obat HIV/AIDS belum ditemukan, minimal pola hidup dan cara menghindari AIDS sudah bisa dipahami oleh masyarakat.
“Kita berharap cara pencegahan dan penyebab HIV/AIDS sudah tersosialisasi di masyarakat. Apa saja yang dapat menyebabkan HIV/AIDS, ini yang mesti secara luas diketahui dan dipahami. Tidak terkecuali di wilayah-wilayah yang dianggap rawan, itu yang dimasuki untuk diberi sosialisasi,’’demikian Anshayari. (fri)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar