Penanganan HIV/AIDS di Banyuwangi Bergantung Biaya dari Lembaga Donor
Selasa, 02 Maret 2010 | 11:58 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Anti HIV/AIDS/Tempo
TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Banyuwangi Mochammad Izzudin mengatakan, anggaran penanggulangan HIV/AIDS yang dialokasikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah tahun ini hanya Rp 80 juta. Anggaran tersebut di bawah usulan Komisi Pemberantasan HIV/AIDS (KPA) Banyuwangi yang mengajukan Rp 100 juta.
Anggaran tersebut, kata dia, juga terlalu sedikit bila dibandingkan pemberiaan lembaga donor Global Fund sebesar hampir Rp 1 miliar. "Karena dari APBD kecil, kita terpaksa bergantung dengan funding," kata Izzudin kepada Tempo, Selasa (2/3).
Menurut Izzudin, anggaran dari Pemerintah Banyuwangi hanya dipakai untuk kegiatan pendukung, seperti survey dan penyediaan peralatan. Sementara dana dari lembaga donor dialokasikan untuk kegiatan pokok. Di antaranya pelayanan di dua klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) serta honor petugas lapangan.
Global Fund, kata dia, memberikan dana hibahnya untuk kegiatan penanggulangan HIV/AIDS kepada Banyuwangi sejak tahun 2005. Setiap tahun kerjasama tersebut terus diperpanjang. "Kalau kerjasamanya diputus, mau tidak mau Pemerintah Banyuwangi harus memback up semua kegiatan," katanya.
Manajer Program Kelompok Kerja Bina Sehat, sebuah lembaga swadaya masyarakat untuk penanggulangan HIV/AIDS, Hoiron, menyayangkan kecilnya dana yang dialokasikan Pemerintah Banyuwangi. Padahal, menurut dia, kasus HIV AIDS di Banyuwangi terus meningkat.
Menurut Hoiron, pemerintah seharusnya memberikan anggaran yang proporsional untuk memberi penguatan pada KPA maupun kepada kelompok masyarakat. "Bila masyarakat diminta aktif, konsekwensinya anggaran dari pemerintah harus lebih besar," ujarnya.
Hingga akhir Januari 2010, pengidap HIV/AIDS sebanyak 565 kasus. Rinciannya, penderita HIV sebanyak 293 kasus sedangkan AIDS 156 kasus. IKA NINGTYAS.
Rabu, 24 Maret 2010
HIV AIDS
Penanganan HIV/AIDS Dilakukan Terpusat
Tanggal: Friday, 26 February 2010
Topik: HIV/AIDS
Radar Sulteng, 18 Februari 2010
MENINGKATNYA trend kasus penderita HIV AIDS di Sulteng dan bahkan ada satu keluarga di Kabupaten Banggai dinyatakan positif mengidap penyakit mematikan itu, menurut Dinas Kesehatan Sulteng penanganannya sudah dilakukan secara terpusat. Dari 10 kabupaten dan satu kota, hanya satu rumah sakit saja yang ditetapkan sebagai pusat rujukan penderita HIV AIDS yakni RSUD Undata Palu.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Sulteng, dr Anshayari Arsyad MKes, dinasnya tidak terlibat langsung dalam penanganan penderita HIV AIDS. Fungsi mereka sebatas koordinasi saja dengan RSUD Undata sehubungan dengan penanganan penderita. Karena itulah tidak ada pos anggaran khusus dari APBD yang disediakan dinas untuk penanganan penyakit satu ini.
RSUD Undata kata dia, menerima stok obat dan keperluan lainnya yang disediakan dari Departemen Kesehatan RI. Bila ada kekurangan obat atau kendala lainnya, rumah sakit berkoordinasi lagi dengan dinas untuk jalan keluarnya. Tetapi yang jelas kata Anshayari, keterlibatan dinas tidak secara langsung untuk masalah ini.
“Depkes langsung yang bertanggungjawab. Dinas sebatas membantu memfasilitasi saja. Di RSUD Undata juga sudah dilatih tenaga khusus untuk penanganan pasien HIV/AIDS,’’ jelas Anshayari dihubungi via ponselnya tadi malam.
Dipusatkannya rujukan pasien ke Undata sudah cukup baik sistemnya. Bila pun di rumah sakit di daerah-daerah menangani pasien, sebatas penanganan yang sifatnya dini. Tapi untuk kelanjutan pengobatan lebih intensif tetap dirujuk ke RSUD Undata Palu. Dengan sistem seperti ini, Dinkes berharap penanganan pasien HIV/AIDS lebih terpola.
Untuk koordinasi dengan RSUD Undata, menurutnya sudah berjalan seperti yang diharapkan. Bila ada kekurangan stok obat, pihak rumah sakit melaporkannya ke dinas. “Akses informasi dan pemberitahuan antara kami dengan Undata lancar dan cukup baik,’’ katanya.
Selain penanganan yang terpusat, identifikasi penderita HIV selama ini juga digalakkan melalui kerjasama dengan LSM yang bergerak di bidang reproduksi dan HIV. Lewat kerjasama yang terbangun baik, maka sosialisasi dan pencegahan terhadap penyakit mematikan itu lebih meluas. Karena obat HIV/AIDS belum ditemukan, minimal pola hidup dan cara menghindari AIDS sudah bisa dipahami oleh masyarakat.
“Kita berharap cara pencegahan dan penyebab HIV/AIDS sudah tersosialisasi di masyarakat. Apa saja yang dapat menyebabkan HIV/AIDS, ini yang mesti secara luas diketahui dan dipahami. Tidak terkecuali di wilayah-wilayah yang dianggap rawan, itu yang dimasuki untuk diberi sosialisasi,’’demikian Anshayari. (fri)
Tanggal: Friday, 26 February 2010
Topik: HIV/AIDS
Radar Sulteng, 18 Februari 2010
MENINGKATNYA trend kasus penderita HIV AIDS di Sulteng dan bahkan ada satu keluarga di Kabupaten Banggai dinyatakan positif mengidap penyakit mematikan itu, menurut Dinas Kesehatan Sulteng penanganannya sudah dilakukan secara terpusat. Dari 10 kabupaten dan satu kota, hanya satu rumah sakit saja yang ditetapkan sebagai pusat rujukan penderita HIV AIDS yakni RSUD Undata Palu.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Sulteng, dr Anshayari Arsyad MKes, dinasnya tidak terlibat langsung dalam penanganan penderita HIV AIDS. Fungsi mereka sebatas koordinasi saja dengan RSUD Undata sehubungan dengan penanganan penderita. Karena itulah tidak ada pos anggaran khusus dari APBD yang disediakan dinas untuk penanganan penyakit satu ini.
RSUD Undata kata dia, menerima stok obat dan keperluan lainnya yang disediakan dari Departemen Kesehatan RI. Bila ada kekurangan obat atau kendala lainnya, rumah sakit berkoordinasi lagi dengan dinas untuk jalan keluarnya. Tetapi yang jelas kata Anshayari, keterlibatan dinas tidak secara langsung untuk masalah ini.
“Depkes langsung yang bertanggungjawab. Dinas sebatas membantu memfasilitasi saja. Di RSUD Undata juga sudah dilatih tenaga khusus untuk penanganan pasien HIV/AIDS,’’ jelas Anshayari dihubungi via ponselnya tadi malam.
Dipusatkannya rujukan pasien ke Undata sudah cukup baik sistemnya. Bila pun di rumah sakit di daerah-daerah menangani pasien, sebatas penanganan yang sifatnya dini. Tapi untuk kelanjutan pengobatan lebih intensif tetap dirujuk ke RSUD Undata Palu. Dengan sistem seperti ini, Dinkes berharap penanganan pasien HIV/AIDS lebih terpola.
Untuk koordinasi dengan RSUD Undata, menurutnya sudah berjalan seperti yang diharapkan. Bila ada kekurangan stok obat, pihak rumah sakit melaporkannya ke dinas. “Akses informasi dan pemberitahuan antara kami dengan Undata lancar dan cukup baik,’’ katanya.
Selain penanganan yang terpusat, identifikasi penderita HIV selama ini juga digalakkan melalui kerjasama dengan LSM yang bergerak di bidang reproduksi dan HIV. Lewat kerjasama yang terbangun baik, maka sosialisasi dan pencegahan terhadap penyakit mematikan itu lebih meluas. Karena obat HIV/AIDS belum ditemukan, minimal pola hidup dan cara menghindari AIDS sudah bisa dipahami oleh masyarakat.
“Kita berharap cara pencegahan dan penyebab HIV/AIDS sudah tersosialisasi di masyarakat. Apa saja yang dapat menyebabkan HIV/AIDS, ini yang mesti secara luas diketahui dan dipahami. Tidak terkecuali di wilayah-wilayah yang dianggap rawan, itu yang dimasuki untuk diberi sosialisasi,’’demikian Anshayari. (fri)
Selasa, 23 Maret 2010
PERAN DAN FUNGSI PERAWAT PROFESIONAL PEMULA
Pendidikan Diploma III Keperawatan di Indonesia merupakan pendidikan yang menghasilkan perawat professional pemula yang mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut:- Melaksanakan pelayanan keperawatan professional dalam suatu system pelayanan kesehatan sesuai kebijakan umumn pemerintah yang berlandaskan pancasila, khususnya pelayanan dan /atau asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan komunitas bardasarkan kaidah � kaidah keperawatan mencakup:
- Menerapkan konsep, teori dan prinsip ilmu humaniora, ilmu alam dasar, biomedik, kesehatan masyrakat dalam melaksanakan pelayanan dan/atau asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakat.
- Melaksanakan pelayanan dan /atau asuhan keperawatan secara tuntas melalui pengkajian keperawatan, penetapan diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi, baik bersifat promotif, prevensi, kuratif dan rehabilitatif kepada klien / pasien yang mempunyai masalah keperawatan dasar sesuai batas kewenangan, tanggung jawab, dan kemampuanya serta berlandaskan etika profesi keperawatan.
- Mendokumentasikan asuhan keperawatan secara sistematis dan memanfatkanya dalam upaya meningkatkan kulitas asuhan keperawtan.
- Bekerja sama dengan anggota tenaga kesehata lain dan berbagiai bidang terkait dalam menerapkan prinsip menejemen, penyelesaian masalah kesehatan yang berorientasi kepada pelayanan dan asuhan keperawatan.
- Melaksanakan system rujukan keperawatan dan kesehatan
- Menunjukan sikap kepemimpinan dan bertanggung jawab dalam mengelola asuhan keperawatan:
- Menerapkan teori menejemen dan kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi setempat dalam mengelola asuhan keperawatan.
- Melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dalam mengelola asuhan keperawatan.
- Bertindak sebagai pemimpin baik formal maupun informal untuk meningkatkan motivasi dan kinerja dari anggota�anggota tim kesehatan dalam mengalola asuhan kepera watan.
- Menggunakan berbagai strategi perubahan yang diperlukan untuk mengelola asuhan keperawatan.
- Menjadi role model professional dalam mengelola pelayanan / asuhan keperawatan.
- Berperan sereta dalam kegiatan penelitian dalam bidang keperawatan dan menggunakan hasil penelitian serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan/asuhan keperawatan.
- Mengidentifikasi masalah kesehatan maupun keperawatan berdasarkan gejala yang ditemukan dalam lingkungan kerjanya sebagai informasi yang relevan untuk kepentingan penelitian.
- Menggunakan hasil-hasil penelitian dan IPTEK kesehatan terutama keperawatan dalam pelayanan keperawatan sesuai standar praktek keperawatan melalui program jaminan mutu yang berkesinambungan.
- Menetapkan prinsip dan teknik penalaran yang tepat dalam berfikir secara logis dan kritis
- Berperan secara aktif dalam mendidik dan melatih pasien dalam kemandirian untuk hidup sehat.
- Merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengajaran dan pelatihan dalam bidang keperawatan.
- Menetapkan prinsip pendidikan untuk meningkatakan kemandirian pasien, peningkatan kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan.
- Menganalisa berbagai ilmu pengetahuan keperawatan dasar dan klinik dalam memberikan pendidikan kepada pasien.
- Mngembangkan diri secara terus menerus untuk meningkatkan kemampuan profesional.
- Menerapkan konsep - konsep profesional dalam melaksanakan kegiatan keperawatan.
- Melaksanakan kegiatan keperawatan dengan menggunakan pendekatan ilmiah.
- Berperan sebagai pembaharu dalam setiap kegiatan keperawatan di berbagai tatanan pelayanan keperawatan/kesehatan.
- Mengikuti perkembangan dan menerapkan IPTEK secara terus�menerus merlalui kegiatan yang menunjang.
- Berperan serta secara aktif dalam setip kegiatan ilmiah yang relavan dengan keperawatan.
- Memelihara dan mengembangkan kepribadian serta sikap yang sesuai dengan etika keperawatan dalam melaksanakan profesinya.
- Melaksanakan tugas profesi keperawatan mengacu kepada kode etik keperawatan mencangkup komunikasi, huvbungan perawat dengan klien/pasien, perawat dengan perawat, perawat dengan profesi lain.
- Mentaati peraturan dan perundang�undangan yang berlaku.
- Bertindak serasi dengan budaya masyarakat dan tidak merugikan kepentingan masyarakat.
- Berperan serta secara aktif dalam pengembngan organisasi profesi.
- Mengembangkan komunitas professional keperawatan.
- Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka untuk menerima perubahan serta berorientasi kemasa depan, sesuai dengan perannya.
- Menggali dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya untuk membantu menyelesaikan masalah masyarakat dibidang kesehatan.
- Memvbantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam bidang kesehatan dan keperawatan dengan memanfaatkan dan mengelola sumber yang tersedia.
- Memilih dan menapis perubahan yang ada untuk membantu meningkatkan kesehatan masyarakat.
- Memberi masukan pada berbagai lembaga pemerintah dan non pemerintah tentang aspek yang terkait dengan keperawatan dan kesehatan
Langganan:
Postingan (Atom)